Labels

Sunday, October 14, 2012

Tafsir Ayat Tentang Manusia


BAB I
PENDAHULUAN
Tidak sedikit ayat al-Qur’an yang berbicara tentang manusia. Bahkan manusia adalah makhluk pertama yang disebut dua kali dalam rangkaian wahyu Tuhan pertama (Q.S.96:1-5). Manusia dalam al-Qur’an sering mendapat pujian Tuhan, seperti pernyataan terciptanya manusia dalam bentuk dan keadaan yang sebaik-baiknya (Q.S. 95:5). Kemudian penegasan tentang dimuliakannya makhluk ini dibandingkan dengan kebanyakan makhluk-makhluk lain (Q.S. 17:70). Tetapi disamping itu, sering pula manusia mendapat celaan Tuhan, seperti bahwa ia amat aniaya dan ingkar nikmat (Q.S. 14:34), dan sangat banyak membantah (Q.S. 18:54), serta bersifat keluh kesah lagi kikir (Q.S. 70:19).
Ini bukan berarti bahwa ayat-ayat al-Qur’an bertentangan satu dengan lainnya. Tetapi ayat-ayat tersebut menunjukkan kelemahan-kelemahan manusia agar dihindarinya, di samping menunjukkan bahwa
makhluk ini mempunyai potensi untuk menempati tempat tertinggi sehingga ia terpuji atau di tempat rendah, sehingga tercela.
Dalam kesempatan ini penulis akan membahas tentang asal-muasal penciptaan manusia (Q.S. 23:12-14) dan kedudukannya (Q.S.95:1-6) di “mata” Tuhannya. Pembahasan tentang manusia, asal kejadian, potensi dan keistimewaan yang dimilikinya, merupakan pembahasan yang mungkin dapat mengantarkan kepada pengetahuan tentang hakikat manusia dan fungsinya dalam kehidupan, Sehingga ia benar-benar bisa memperoleh tempat tertinggi di sisi Tuhannya.

 BAB II
PEMBAHASAN
A.    PROSES PENCIPTAAN MANUSIA
1.      Teks ayat dan terjemah
   ولقد خلقنا الإنسان من سلالة من طين (12)  ثم جعلنه نطفة في قرار مكين (13)  ثم خلقنا النطفة علقة فخلقنا العلقة مضغة فخلقنا المضغة عظاما فكسون العظام لحما ثم أنشأنه خلقا ءاخر  فتبارك الله أحسن الخالقين (14)
Artinya:
12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik. (Q.S. Al-Mukminun [23]:12-14)
2.      Tafsir Mufrodat
الإنسان : para ulama berbeda-beda pendapat tentang arti kata ini, banyak yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah Adam. Ada juga yang menyatakan  bahwa kata tersebut maknanya adalah jenis manusia. Al-Biqa’i misalnya menulis bahwa (سلالة من طين) saripati dari tanah, merupakan tanah yang menjadi bahan penciptaan Adam. Thabathaba’i juga berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-insan tidak mungkin Adam as.
Thahir bin ‘Asyur, walaupun membuka kemungkinan memahami kata al-insan dalam arti Adam, cenderung berpendapat bahwa al-insan yang dimaksud adalah putra-putri adam as. Saripati dari tanah itu menurutnya adalah apa yang diproduksi oleh alat pencernaan dari bahan makanan yang kemudian menjadi darah, yang kemudian berproses hingga akhirnya menjadi sperma ketika terjadi hubungan seks. Nah, inilah yang dimaksud dengan saripati tanah karena ia berasal dari makanan manusia-baik tumbuhan maupun hewan yang bersumber dari tanah.
 سلالة  : terambil dari kata سلّ yang antara lain berarti mengambil, mencabut. Patron kata ini mengandung makna sedikit, sehingga kata sulalah berarti mengambil sedikit dari tanah dan yang diambil itu adalah saripatinya.
نطفة    : dalam bahasa Arab berarti setetes yang dapat membasahi. Ada juga yang memahami kata itu dalam arti hasil pertemuan sperma dan ovum. Penggunaan kata ini menyangkut proses kejadian manusia sejalan dengan penemuan ilmiah yang menginformasikan bahwa pancaran mani yang menyembur dari alat kelamin pria mengandung sekitar dua ratus juta benih manusia, sedang yang berhasil bertemu dengan indung telur wanita hanya satu saja.
علقة : terambil dari kata علق yang berarti a) segumpal darah yang membeku, b) sesuatu yang seperti cacing, berwarna hitam, terdapat dalam air, yang bila air itu diminum, cacing tersebut menyangkut di kerongkongan, dan c) sesuatu yang bergantung atau berdempet.
مضغة : terambil dari kata مضغ yang berarti mengunyah, mudhghah adalah sesuatu yang kadarnya kecil sehingga dapat dikunyah.
كسونا : terambil dari kata كسى yang berarti membungkus. Daging diibaratkan pakaian yang membungkus tulang.
خلق : biasa diterjemahkan mencipta atau mengukur, biasanya digunakan untuk menunjuk penciptaan baik dari bahan yang telah ada sebelumnya maupun belum ada.
جعل : artinya menjadikan, digunakan untuk menunjuk beralihnya sesuatu ke sesuatu yang lain, dan ini bararti bahwa bahannya telah ada.
أنشأ : mengandung makna mewuudkan sesuatu serta memelihara dan mendidiknya. Penggunaan kata tersebut dalam menjelaskan proses terakhir dari kejadian manusia mengisyaratkan bahwa proses terakhir itu benar-benar berbeda sepenuhnya dengan sifat, ciri dan keadaannya dengan apa yang ditemukan dalam proses sebelumnya.
خلقا آخر : berarti makhuk lain, mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang dianugerahkan kepada makhluk yang dibicarakan ini yang menjadikan ia berbeda dengan makhluk-makhluk lain, karena Allah telah menganugerahkan makhluk ini ruh ciptaan-Nya yang tidak Dia anugerahkan kepada siapapun termasuk kepada para malaikat.
تبارك : terambil dari kata بركة yang bermakna sesuatu yang mantab. Ia juga berarti kebajikan yang melimpah dan beraneka ragam serta bersinambung. Kolam dinamai birkah, karena air yang ditampung dalam kolam itu menetap mantab di dalamnya tidak tercecer ke mana-mana.
الخالقين : adalah bentuk jama’ dari kata خالق. Bentuk jama’ tersebut mengisyaratkan bahwa ada kholiq selain Allah, tetapi Allah adalah yang terbaik. Khaliq dipahami dalam arti pencipta atau pengukur.
3.      Analisa Nahwu
Ayat di atas menggunakan kata penghubung yang berbeda. Sekali ثم/kemudian dan kali lain ف/lalu atau maka. Keduanya digunakan untuk menunjuk terjadinya sesuatu setelah sesuatu yang lain, atau adanya peringkat yang berbeda antara apa yang disebut sebelumnya dibandingkan dengan apa yang disebut sesudah salah satu dari kedua kata tersebut. Hanya saja kata ثم biasa digunakan untuk menunjukkan jarak yang lebih panjang dibanding dengan bila kata yang digunakan adalah ف .
Dalam konteks ayat di atas, sementara ulama memahami penekanan kata ثم dan ف tersebut bukan pada jarak waktu, tetapi kedudukan dan keajaiban yang demikian tinggi antara yang satu dengan yang lain. Ini berarti peralihan dari nuthfah ke ‘alaqah serta dari tulang yang terbungkus daging menuju makhluk lain merupakan peralihan yang sangat menakjubkan melebihi ketakjuban yang muncul pada peralihan ‘alaqah ke mudhghah atau mudhghah ke tulang, demikian juga dari tulang hingga terbungkus daging.

4.      Syarah Penjelasan Ayat
Al-biqa’i menguraikan hubungan ayat-ayat di atas dengan menyatakan bahwa, akhir ayat yang lalu, yang berbicara tentang pewarisan surga di hari kemudian, mengandung makna seakan-akan Allah berfirman: Kami telah menetapkan adanya kebangkitan bagi seluruh hamba Kami setelah kematian mereka. Ada sekelompok menuju surga yang penuh kenikmatan dan ada juga kelompok yang menuju ke neraka. Kami kuasa membangkitkanmu kembali, walau jasad kamu telah koyak dan telah menjadi tanah. Karena tanah pernah menjadi sumber kehidupan. Sebagaimana Kami kuasa memulai – dengan menciptakan orang tua kamu, Adam, dari tanah yang ketika itu belum menjadi sumber kehidupan, maka kini Kami mampu menghidupkan kamu semua kembali setelah kamu menjadi tanah yang sudah pernah hidup.
Ayat ini kurang lebih menyatakan: Dan sesungguhnya Kami bersumpah bahwa Kami telah menciptakan manusia, yakni jenis manusia yang kamu saksikan, bermula dari suatu saripati yang berasal dari tanah. Kemudian kami menjadikannya yakni saripati itu nuthfah yang disimpan dalam tempat yang kokoh, yaitu rahim ibu. Kemudian Kami ciptakan yakni jadikan nuthfah itu ‘alaqah, lalu Kami ciptakan yakni jadikan ‘alaqah itu mudhghahi yng merupakan sesuatu yang kecil sekerat daging, lalu Kami ciptakan, yaitu jadikan mudhghah itu tulang belulang, lalu Kami bungkus tulang belulang itu dengan daging. Kemudian Kami mewujudkannya yaitu tulang yang terbungkus daging itu menjadi – setelah Kami meniupkan ruh ciptaan Kami kepadanya – makhluk lain daripada yang lain yang sepenuuhnya berbeda dengan unsure-unsur kejadiaannya yang tersebut di atas bahkan berbeda dengan makhluk-makhluk lain. Maka Maha banyak lagi mantap keberkahan yang tercurah dari Allah, Pencipta Yang Terbaik.   
5.      Pokok Kandungan Ayat
Nash ini mengisyaratkan tentang periode pertumbuhan manusia, namun tidak membatasinya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia melewati banyak fase yang berturut-turut. Dari tanah kemudian menjadi manusia. Tanah merupakan fase pertama atau sumber pertama, dan manusia merupakan fase terakhir.
Sesungguhnya al-Qur’an menetapkan hakikat itu agar dijadikan sebagai bahan renungan tentang ciptaan Allah dan agar dipikirkan peralihan yang panjang dari tanah menuju manusia yang berjenjang-jenjang dalam pertumbuhannya dari tanah tersebut.
Sementara itu, bahasan tentang bagaimana manusia berjenjang-jenjang dari tanah merupakan hal yang didiamkan oleh al-Qur’an. Karena, hal itu bukan merupakan target al-Qur’an. Perbedaan yang paling mencolok antara bahasan teori-teori ilmiah dengan bahasan yang ada dalam al-Qur’an adalah bahwa al-Qur’an menghormati manusia dan menentukan bahwa di dalam diri manusia ada roh dari Allah. Roh itulah yang menyebabkan “kerangka saripati dari tanah” menjadi manusia. Roh  itu juga yang memberikan karakter-karakter yang menjadikannya layak sebagai manusia dan membedakannya dari hewan. Di sinilah letak perbedaan yang sejauh-jauhnya antara teori Islam dan teori ilmiah yang bersumber dari materi. Allah-lah Zat Yang Maha Benar.
Janin manusia mirip dengan janin hewan dalam pertumbuhan jasmaninya. Namun, janin manusia dijadikan makhluk yang berbentuk lain. Kemudian beralih kepada bentuk penciptaan yang istimewa itu, yang siap untuk tumbuh. Sedangkan, janin hewan tetap pada tingkat hewan, kosong dari karakter-karakter kesempurnaan dan pertumbuhan yang dimiliki oleh janin manusia. Sesungguhnya janin manusia dibekali dengan karakter-karakter khusus agar mampu menempuh jalannya di kemudian hari. Dia diciptakan dalam bentuk lain, pada akhir fase janin. Sementara janin hewan berhenti di jenjang pertumbuhan hewan karena ia tidak memiliki karakter-karakter tersebut. Oleh karena itu, hewan tidak mungkin melampaui batas tingkat kebinatangannya, kemudian ia meningkat berangsur-angsur menjadi manusia, sebagaimana yang dinyatakan oleh teori Darwin.
Manusia dan hewan adalah dua hakikat yang sangat berbeda. Keduanya berbeda disebabkan oleh roh yang ditiupkan oleh Allah yang menyebabkan saripati dari tanah itu menjadi manusia. Keduanya juga berbeda disebabkan oleh karakter-karakter khusus yang tumbuh dari tiupan roh itu yang menyebabkan janin manusia menjadi “ciptaan dalam bentuk lain”. 
6.      Analisa Ayat
Dalam ayat 14 dijelaskan bahwa segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Dalam penelitian baru di bidang embriologi, tidak ditemukan sel-sel pembentuk daging sebelum sel-sel pembentuk tulang ada. Maka dari itu para embriolog enggan mengartikan علقة dengan segumpal darah, namun mengartikannya sebagai suatu benda yang menggantung di rahim yang kemudian menjadi sel-sel tulang. Setelah sel-sel tulang itu terbentuk menjadi susunan tulang, baru sel-sel daging muncul untuk membungkus susunan tulang tersebut. Wallahu a’lam.
7.      Hikmah/Pelajaran
Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah, dan setelah beberapa fase sehingga sempurna kejadiannya, dihembuskan-Nyalah kepadanya ruh ciptaan Tuhan (Q.S. 38:71-72).
Dari sini jelas bahwa manusia terdiri dari dua unsur pokok yaitu gumpalan tanah dan hembusan ruh. Ia adalah kesatuan dari kedua unsur tersebut yang tidak dapat dipisahkan. Bila dipisah, maka ia bukan lagi manusia, sebagaimana halnya air, yang merupakan perpaduan antara oksigen dan hidrogen, dalam kadar-kadar tertentu bila salah satu di antaranya terpisah, maka ia bukan lagi air.
Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia yang mempunyai tubuh sempurna berasal dari saripati tanah. Maka tidak selayaknya bagi manusia untuk berbangga hati terhadap makhluk lainnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

B.     KEDUDUKAN MANUSIA
1.      Teks ayat dan terjemah
      والتين و الزيتون (1) وطورسينين (2) وهذ البلد الأمين (3) لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم (4) ثم رددناه أسفل سافلين (5) إلا الذين ءامنوا وعملوا الصالحات فلهم أجرغير ممنون (5)
Artinya:
1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun[1587],2. Dan demi bukit Sinai[1588],3. Dan demi kota (Mekah) ini yang aman,4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),6. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (Q.S. At-Tiin, 95:1-6)
2.      Tafsir mufrodat/ kalimat kunci
والتين : “demi tiin,Di sini, para ahli tafsir masih berbeda pendapat dengan pendapat yang cukup banyak. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan at-tiin di sini adalah masjid Damaskus. Ada juga yang berpendapat, ia merupakan buah tin itu sendiri. Juga ada yang menyatakan bahwa ia adalah gunung yang terdapat di sana. Sedangkan al-Qurthubi mengatakan: "At-tiin adalah masjid Ash-habul Kahfi." Dan diriwayatkan oleh al-'Aufi dari Ibnu 'Abbas bahwa at-tiin adalah masjid Nuh yang terdapat di bukit al-Judi. Mujahid mengatakan: "la adalah at-tiin kalian ini."
وَالزَّيْتُونِ "Dan demi zaitun," Ka'ab al-Ahbar, Qatadah, Ibnu Zaid, dan lain-lain mengatakan: "Yaitu masjid Baitul Maqdis yang terdapat banyak tumbuhan Zaytun. Sementara Mujahid dan 'Ikrimah mengatakan: "Yaitu buah zaitun yang kalian peras."
وَطُورِ سِينِينَ "Dan demi bukit Sinai." Ka'ab al-Ahbar dan lain-lain mengatakan: "Yaitu bukit di mana Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa as.
وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ "Dan demi kota ini yang aman." Yakni, kota Mekkah. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu 'Abbas, Mujahid, 'Ikrimah, al-Hasan, Ibrahim an-Nakha'i, dan tidak ada perbedaan pendapat mengenai masalah tersebut.
 لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." Dan inilah yang menjadi obyek sumpah, yaitu bahwa Allah Ta'ala telah menciptakan manusia dalam wujud dan bentuk yang sebaik-baiknya, dengan perawakan yang sempurna serta beranggotakan badan yang normal sehingga bisa menempati posisi tertinggi dengan segala potensi yang ia miliki.
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ "Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya." Yakni ke Neraka. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, Abul ‘Aliyah, al-Hasan, Ibnu Zaid, dan lain-lain. Kemudian setelah penciptaan yang baik dan potensi yang menakjubkan itu, mereka akan diseret ke Neraka jika mereka tidak taat kepada Allah dan tidak mengikuti para Rasul. Maka dari itu, Dia berfirman:
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ "Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih." Dan firman-Nya, (فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ) "Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya." Yakni, tiada putus-putusnya, selalu bersambung.
3.      Analisa nahwu
Dalam awal ayat 1-3, Allah memulai dengan huruf و yang dinamakan wawu qasam yang berfungsi sebagai sumpah, dalam hal ini untuk menunjukkan keagungan penciptaan manusia.
Kemudian pada ayat keempat Allah memakai huruf lam qasam/taukid dan huruf qad litahqiq yang berfaedah taukid sebagai kesungguhan dari sumpah-Nya dalam menciptakan manusia dengan sebagus-bagus bentuk/rupa.
4.      Syarah penjelasan ayat
Surah At-Tiin adalah surah yang ke-95 di dalam mushaf Al-Qur’an. Surah ini diwahyukan di Makkah, sebagai wahyu yang ke-28, turun sesudah Surah Al-Buruuj dan sebelum Surah Al-Quraisy. Surah ini terdiri atas 8 ayat.
Gunung Sinai adalah gunung tempat ketika nabi Musa as. berbicara kepada Allah. Sedangkan kota yang aman adalah kota Mekkah Baytullah al-Haram. Hubungan antara gunung Sinai dan kota Mekkah ini dengan urusan agama dan iman sangat jelas. Adapun hubungan dengan tiin dan zaytun tidak jelas bagi kita bayangannya.
Mereka yang berpendapat bahwa ayat pertama bermakna tumbuhan atau buah tertentu, cenderung mengaitkan sumpah ini dengan ayat keempat yang menyatakan bahwa manusia telah diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Menurut mereka, Allah bersumpah dengan menggunakan nama tumbuhan atau buah yang memiliki banyak manfaat, sebagai isyarat bahwa manusia yang diciptakan Allah itu juga mempunyai potensi untuk dapat memberi manfaat sebagaimana halnya dengan tumbuhan atau buah tersebut. Jika ia memanfaatkan potensinya, maka tentulah ia akan memberikan banyak manfaat sebagai mana pohon tiin dan zaitun.
5.      Pokok kandungan ayat
Hakikat pokok yang dipaparkan surah ini adalah hakikat fitrah yang lurus yang Allah menciptakan manusia atas fitrah ini. Istiqomah tabiatnya bersama tabiat iman, dan sampainya fitrah itu bersama iman kepada kesempuranaannya yang ditakdirkan untuknya. Hakikat tentang jatuhnya manusia dan kerendahannya yaitu ketika ia menyimpang dari fitrah yang benar dan iman yang lurus.
Allah swt. Bersumpah atas hakikat ini dengan tiin dan zaitun, gunung Sinai, dan kota Mekkah yang aman. Sumpah ini, sebagaimana banyak kita jumpai dalam juz ini (30) merupakan bingkai yang memuat hakikat tersebut. Kita lihat dalam surah-surah yang serupa bahwa bingkai ini selaras dengan hakikat yang dikandungnya.
6.      Analisa ayat
Hubungan ayat pertama dengan ayat keempat seperti dikemukakan di atas, walau kelihatannya dapat diterima tetap tidak dapat memuaskan banyak pakar. Karena, kata mereka, apa hubungan antara ayat pertama, kedua, dan ketiga? Apa hubungan antara buah tiin dan zaytun dengan Sinai dan Mekkah? Hubungan tersebut baru nyata apabila kata tiin dan zaytun dipahami sebagai tempat-tempat suci di mana para utusan Tuhan memperoleh petunjuk-Nya. 
7.      Hikmah/pelajaran
Di lain ayat, dijelaskan bahwa sebelum diciptakannya manusia, Tuhan telah menyampaikan rencana penciptaan ini kepada malaikat, yaitu agar makhluk ini menjadi khalifah (kuasa atau wakil) Tuhan di bumi (Q.S. 2:30). Dari sini jelas pula bahwa hakikat wujud manusia dalam kehidupan ini adalah melaksanakan tugas kekhalifahan, yaitu membangun dan mengolah dunia ini sesuai dengan kehendak Ilahi. Karenanya, ditetapkanlah tujuan hidupnya, yaitu mengabdi kepada Allah (Q.S. 51:56).
Manusia menurut al-Qur’an, memenuhi kebutuhan hidupnya yang bersumber dari gumpalan darah tersebut, memenuhinya ala manusia, bukan ala binatang. Demikian pula dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan ruhaniah pun ala manusia bukan ala malaikat. Sebab kalau tidak, ia akan menjadi binatang atau malaikat, yang keduanya akan membawa ia jauh dari hakikat kemanusiaannya.
Ketika manusia yang disebut sebagai makhluk yang sebagus-bagusnya bentuk tetap berada pada garis aturan Ilahi, yaitu selalu melakukan semua perintah Tuhannya dan meninggalkan semua yang dilarang oleh Tuhannya, maka ia akan memperoleh pahala yang tiada putus-putusnya.
Sebaliknya, ketika ia sudah melenceng keluar jalur dari garis aturan Allah, yaitu tidak lagi mengindahkan segala perintah-Nya dan menjalani semua larangan-Nya, maka ia akan direndahkan serendah-rendahnya tempat oleh Allah swt., yaitu di neraka. Na’udzubillahi min dzalik.
  
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari tulisan-tulisan yang dikemukakan di atas memberikan gambaran tentang sebagian dari keistimewaan manusia, sebagaimana ia menggambarkan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Berbarengan dengan kesanggupan atau kemampuan tersebut, manusia menunjukkan dengan diakui maupun tidak, ketidakmampuannya yang berarti keterbatasannya.
Keterbatasan manusia ini memaksanya untuk berpikir tentang dirinya sendiri dalam berhadapan dengan suatu kekuatan yang supernatural yang tak terbatas, yang mengatur alam ini dengan segala isinya, termasuk manusia sendiri. Bahkan ia bukan saja menghadapkan diri kepada superpower tersebut, tetapi juga menyerahkan diri dan mengaguminya. Dengan demikian hidup manusia selalu diliputi oleh suasana religius (suasana percaya) dan patuh kepada kekuatan supernatural tersebut yang kita namakan Tuhan.
Dan apabila manusia tersebut tidak patuh terhadap kekuatan supernatural itu, maka ia akan ditempatkan di tempat yang paling rendah di kehidupan berikutnya. Bahkan lebih rendah daripada binatang. Wallahu a’lam bish-showab.

DAFTAR PUSTAKA
Katsir, Ibnu, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 8, Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’I, 2005.
Maraghi al-, Ahmad Musthafa, Tafsir al-Maraghiy, Mesir: al-Halabiy, 1946.
Qur’an al-, dan terjemahannya, Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penerjemahan/Penafsir al-Qur’an, Departemen Agama Republik Indonesia, 1967. 
Quthb, Sayyid, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an di Bawah Naungan al-Qur’an Jilid 8, tim penerjemah, Jakarta:Gema Insani Press,2004.
Shiddieqy ash-, T.M. Hasbi, Tafsir al-Qur’anul Majid An-Nuur, Cet.ke-2, Semarang:Pustaka Rizki, 2000.
Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Qur’an:Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 1994.
Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Mishbah volume 9, Jakarta: Lentera hati, 2002.


No comments:

Post a Comment

Post a Comment