Labels

Wednesday, June 6, 2012

Outline Karya Tulis Ilmiah


Outline dalam Karya Tulis Ilmiah
Oleh: Khoerul Anam
BAB I
PENDAHULUAN
Bahasa Indonesia telah diakui dan diangkat sebagai bahasa nasional sejak tercetusnya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Maka masalah bahasa Indonesia adalah masalah nasional yang pembinaan dan pengembangannya dilakukan secara nasional. Pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, melainkan perlu peran serta masyarakat sebagai pemakainya.[1]
Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan berhubungan erat dengan fungsinya sebagai alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional dan untuk kepentingan pelaksanaan pemerintahan.[2]
Mengingat fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia serta pentingnya pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia, maka pengajaran bahasa Indonesia memegang peranan yang penting, di mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, karna itu menjadi tombak penilaian kualitas dan kuantitas dari hasil karya anak bangsa yang nantinya akan menjadi penerus bangsa.
Pada kesempatan ini kami akan membahas cara menyusun karya ilmiah dengan topik outline yang mana adalah lanjutan dari pertemuan-pertemuan sebelumnya yang telah membahas mengenai ragam bahasa baku, bahasa yang baik dan benar, kesalahan dalam berbahasa, diksi, paragraf, topik, tema, dan judul.
  
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Outline
Istilah outline ada yang menyebutnya ragangan atau kerangka karangan. Pada umumnya para penulis pertama-tama harus membuat sebuah bagan atau rencana tulisan yang setiap kali dapat mengalami perubahan perbaikan dan penyempurnaan sehingga mencapai bentuk yang lebih sempurna. Untuk membuat perencanaan yang matang semacam itu diperlukan sebuah metode yang teratur, sehingga pada waktu mennyusun bagian dari topik-topik yang akan digarap itu dapat dilihat hubungan yang jelas antara  satu bagian dengan bagian yang lain, bagian mana yang sudah baik dan bagian mana yang masih memerlukan penyempurnaan. Metode yang biasa dipakai untuk maksud tersebut disebut kerangka karangan atau outline.
Gorys Keraf dalam bukunya “ Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa” mengatakan bahwa kerangka karangan atau outline adalah suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan digarap. Sedang menurut Drs. Sukari Tamsir M.pd. dalam bukunya “Bahasa Indonesia Pengantar Penulisan Karya Ilmiah” kerangka karangan adalah batas-batas materi atau gagasan yang harus dituangkan dalam sebuah karangan. Dengan pengertian tersebut maka outline berisi materi atau ide yang seharusnya dituangkan dalam sebuah karangan sesuai dengan judul atau topiknya. Materi atau ide-ide yang tidak masuk lingkup topik atau judul tidak boleh dimasukkan dalam outline.
B.       Manfaat Outline
Outline akan membantu setiap penulis untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu dilakukan atau secara rinci dapat dikatakan bahwa outline dapat membantu penulis dalam hal-hal berikut:
1.  Isi karangan sesuai dengan topik dan tujuan. Seluruh ide sudah tertampung dalam karangan dan tidak kemasukan ide yang seharusnya tidak relevan sehingga seluruh isi karangan berisi bahasan yang menjawab topik dan tujuan.
2.    Isi karangan tersusun secara logis dan sistematis. Apabila outline disusun secara logis dan sistematis, maka akan terjalin timbal-balik antara gagasan-gagasan penulis yang tepat dan teratur, membantu penulis untuk melihat gagasan-gagasan dalam sekilas pandang, sehingga dapat dipastikan apakah susunan dan hubungan timbal-balik antara gagasan-gagasan itu sudah tepat, baik, dan harmonis dalam perimbangannya serta menunjukkan alur pikir yang logis dan satu sama lain merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan.
3.   Menghindari pembahasan sebuah topik sampai dua kali atau lebih. Berdasarkan outline, topik-topik disusun secara urut dan tidak akan ada yang diulang. Ada kemungkinan suatu bagian perlu dibicarakan dua kali atau lebih sesuai dengan kebutuhan tiap bagian dari karangan itu, namun penggarapan suatu topik sampai dua kali atau lebih tidak perlu. Karena hal itu hanya akan membawa efek yang tidak menguntungkan, misalnya: bila penulis tidak sadar betul maka pendapatnya mengenai topik yang sama pada bagian yang terdahulu lain, sedangkan pada bagian kemudian bertentangan dengan yang terdahulu. Hal ini tidak dapat diterima , bahwa dalam satu karangan yang sama terdapat pendapat yang bertentangan satu sama lain. Di sisi lain menggarap topik lebih dari satu kali hanya membuang waktu, tenaga, dan materi. Kalau memang tak dapat dihindari maka penulis harus menetapkan pada bagian mana topik tadi harus diuraikan, sedangkan bagian yang lain cukup dengan menunjuk kembali kepada bagian yang lain tadi. [3]
4.  Memudahkan penulis untuk mencari materi pembantu. Dengan mempergunakan perincian-perincian dalam outline penulis dengan mudah akan mencari data-data atau fakta-fakta untuk memperjelas atau membuktikan pendapatnya.
5.  Memudahkan penulis untuk menyusun karangan. Topik-topik yang akan dibahas sudah dituangkan dalam bab-bab, sub-subbab, atau topik-topik bawahannya. Sehubungan dengan hal itu penulis tidak harus menyusun karangan urut dari bab yang harus didahulukan sampai bab terakhir, tetapi bisa menyusun berdasarkan bab-bab atau sub-subbab yang dikuasai mengingat bahan (data, informasi, dsb.) atau acuan yang sudah tersedia. Jadi, penulis bisa saja menyelesaikan Bab III dulu sebelum menyelesaikan Bab II. [4]
6.  Memudahkan pembaca mengetahui garis besar isi keseluruhan karangan. Outline merupakan miniatur dari sebuah karangan. Jika pembaca ingin memahami bagian-bagian atau ide-ide tertentu dapat melihat bagian-bagian outline. Jika pembaca ingin mengetahui masalah yang diinginkan apakah terdapat dalam buku atau tidak, dapat melihat outline.
C.      Syarat-syarat Outline yang Baik[5]
Menurut Gorys Keraf, terlepas dari besar kecilnya outline yang dibuat, tiap outline yang baik harus memenuhi persyaratan-persyaratan berikut:
1.    Pengungkapan maksud harus jelas.
2.    Tiap unit dalam outline hanya mengandung satu gagasan.
3.    Pokok-pokok dalam outline harus disusun secara logis.
4.    Harus mempergunakan pasangan simbol yang konsisten.
D.      Macam-macam Outline
Menurut Gorys Keraf, macam-macam karangan tergantung dari dua parameter yaitu: berdasarkan sifat perinciannya, dan kedua berdasarkan perumusan teksnya.
1.    Berdasarkan perinciannya, yang dilakukan pada suatu outline, maka dapat dibedakan menjadi outline sementara (non-formal) dan outline formal.
a.       Outline sementara (non-formal)
Outline sementara merupakan suatu alat bantu, sebuah penuntun bagi suatu tulisan yang terarah. Sekaligus ia menjadi dasar untuk penelitian kembali guna mengadakan perombakan-perombakan yang dianggap perlu. Karena outline ini hanya bersifat sementara, maka tidak perlu disusun secara terperinci. Outline sementara biasanya hanya terdiri dari pengungkapan maksud dan pokok-pokok utama, paling tinggi dua tingkat perincian. Alasan untuk menggarap sebuah outline sementara dapat berupa topik yang tidak kompleks, atau karena penulis segera menggarap karangan itu.
b.      Outline formal
Outline yang bersifat formal biasanya timbul dari pertimbangan bahwa topik yang akan digarap bersifat sangat kompleks, atau suatu topik yang sederhana tetapi penulis tidak bermaksud untuk segera menggarapnya.
Proses perencanaan sebuah kerangka formal mengikuti prosedur yang sama seperti kerangka non-formal. Pengungkapan maksud dirumuskan dengan tepat dan cermat, kemudian dipecah-pecah menjadi bagian-bagian bawahan yang dikembangkan untuk menjelaskan gagasan sentralnya. Tiap sub-bagian dapat diperinci lebih lanjut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sejauh diperlukan untuk menguraikan persoalan itu sejelas-jelasnya. Dengan perincian yang sekian banyak, sebuah outline bisa mencapai lima atau enam tingkat perincian. Suatu pengungkapan maksud yang diperinci minimal atas tiga tingkat perincian sudah dapat disebut outline formal.
Supaya tingkatan-tingkatan yang ada jelas kelihatan hubungannya satu sama lain, maka dipergunakan pula simbol-simbol yang konsisten bagi tingkatan yang sederajat. Tanda atau simbol itu harus ditempatkan sekian macam sehingga mudah dilihat, misalnya seperti di bawah ini:
PENGUNGKAPAN MAKSUD/TESIS: ………………………………
PENDAHULUAN …………………………………………………….
I.     ……………………………………………………………………..
A.  ………………………………………………………………….
1.    ………………………………………………………………
a.     …………………………………………………………...
(1) ………………………………………………………...
(2) ………………………………………………………...
b.    ……………………………………………………………
(1) ………………………………………………………..
(2) ………………………………………………………..
2.    ……………………………………………………………...
a.    …………………………………………………………..
(1) ……………………………………………………….
(2) ………………………………………………………
b.    ………………………………………………………….
B  ………………………………………………………………..
1.    …………………………………………………………………...
a.    ………………………………………………………….
(1) ………………………………………………………
(2) ………………………………………………………
b.    ………………………………………………………….
2.    ……………………………………………………………..
a.    ………………………………………………………….
b.    ………………………………………………………….
(1) ……………………………………………………….
(2) ……………………………………………………….
c.    …………………………………………………………..
II.  ……………………………………………………………………
     dst.
III.              ………………………………………………………………
dst.
2.  Berdasarkan perumusan teksnya, sesuai dengan  cara merumuskan teks dalam tiap unit dalam sebuah outline, maka outline dapat dibedakan menjadi outline kalimat dan outline topik.
a.    Outline Kalimat
Kerangka kalimat atau outline kalimat mempergunakan kalimat berita yang lengkap untuk merumuskan tiap unit, baik untuk merumuskan tesis maupun untuk merumuskan unit-unit utama dan unit-unit bawahannya. Penggunaan kerangka kaliamat atau outline kaliamat mempunyai beberapa manfaat antara lain:
1)      Ia memaksa penulis untuk merumuskan dengan topik yang akan diuraikan, serta perincian-perincian tentang topik itu.
2)      Perumusan topik-topik dalam tiap unit akan tetap jelas, walaupun telah  bertahun-tahun. Penulis masih sanggup mengikuti rencana aslinya walaupun baru digarap bertahun-tahun kemudian.
3)      Kalimat yang dirumuskan dengan baik dan cermat akan jelas bagi siapapun, seperti bagi pengarangnya sendiri.
b.    Outline Topik
Kerangka topik dimulai dengan perumusan tesis dalam sebuah kalimat yang lengkap. Sesudah itu semua pokok, baik pokok-pokok utama maupun pokok-pokok bawahan, dirumuskan dengan mencantumkan topiknya saja, dengan tidak mempergunakan kalimat yang lengkap. Kerangka topik dirumuskan dengan mempergunakan kata. Sebab itu kerangka topik tidak begitu jelas dan cermat seperti kerangka kalimat. Kerangka topik manfaatnya kurang bila dibandingkan dengan kerangka kalimat, terutama jika tenggang waktu antara perencanaan kerangka karangan itu dengan penggarapannya cukup lama. Kerangka topik mengikuti persyaratan yang sama seperti sebuah kerangka kalimat, misalnya dalam pembagiannya. Penggunaan simbol-simbol, sub-ordinasinya, dan sebagainya.
E.       Penerapan Penyusunan Outline
Suatu outline yang baik tidak sekali dibuat. Penulis selalu akan berusaha menyempurnakan bentuk yang pertama, sehingga bisa diperoleh bentuk yang lebih baik, demikian seterusnya. Untuk itu dapat dikemukakan beberapa langkah yang perlu diikuti, terutama bagi mereka yang baru mulai menulis. Langkah-langkah ini tidak mutlak harus diikuti oleh penulis-penulis yang sudah mahir.
Langkah-langkah sebagai tuntunan yang harus diikuti adalah sebagai berikut:[6]
1.    Rumusan tema  yang jelas berdasarkan suatu topik dan tujuan yang akan dicapai melalui topik tadi. Tema yang dirumuskan untuk kepentingan suatu outline harus berbentuk tesis atau pengungkapan maksud.
2.    Mengadakan inventarisasi topik-topik bawahan yang dianggap merupakan perincian dari tesis atau pengungkapan maksud tadi. Dalam hal ini penulis boleh mencatat sebanyak-banyaknya topik-topik yang terlintas dalam pikirannya, dengan tidak perlu langsung mengadakan evaluasi terhadap topik-topik tadi.
3.    Penulis berusaha mengadakan evaluasi semua topik yang telah tercatat pada langkah kedua di atas. Evaluasi tersebut dapat dilakukan dalam beberapa tahap sebagai berikut:
a.    Pertama: apakah semua topik yang tercatat mempunyai pertalian (relevansi) langsung dengan tesis atau pengungkapan maksud. Bila ternyata sama sekali tidak ada hubungan maka topik tersebut dicoret dari daftar di atas.
b.    Kedua: semua topik yang masih sangat dipertahankan kemudian dievaluasi lebih lanjut. Apakah ada dua topik atau lebih yang sebenarnya merupakan hal yang sama, hanya dirumuskan dengan cara yang berlainan. Bila ternyata dapat kasus yang semacam itu maka harus diadakan perumusan baru yang mencakup semua topik tadi.
c.    Ketiga, evaluasi lebih lanjut ditunjukkan kepada persoalan, apakah semua topik itu sama derajatnya, atau ada topik yang sebenarnya merupakan bawahan atau perincian dari topik yang lain. Bila ada masukkanlah topik bawahan itu ke dalam topik yang dianggap lebih tinggi kedudukannya. Bila topik bawahan itu hanya ada satu usahakan dilengkapi dengan topik-topik bawahan yang lain.
d.   Keempat, ada kemungkinan bahwa ada dua topik atau lebih yang kedudukannya sederajat, tetapi lebih rendah dari topik-topik yang lain. Bila terdapat hal yang demikian, maka usahakanlah untuk mencari satu topik yang lebih tinggi yang akan membawahi topik-topik tadi.
4.    Untuk mendapatkan sebuah outline yang sangat terperinci maka langkah kedua dan ketiga dikerjakan berulang-ulang untuk menyusun topik-topik yang lebih rendah tingkatannya.
5.    Sesudah semuanya siap masih harus dilakukan langkah yang terakhir, yaitu menentukan sebuah pola susunan yang paling cocok untuk mengurutkan semua perincian dari tesis atau pengungkapan maksud sebagai yang telah diperoleh dengan mempergunakan semua langkah diatas. Dengan pola susunan tersebut semua perincian akan disusun kembali sehingga akan diperoleh sebuah outline yang baik.
F.            Pola Susunan Outline[7]
Untuk memperoleh suatu susunan outline yang teratur biasanya dipergunakan beberapa cara atau tipe susunan. Pola susunan yang paling utama adalah pola alamiah dan pola logis. Pola alamiah dari suatu outline biasanya didasarkan atas urutan-urutan kejadian, atau urutan-urutan tempat atau ruang. Sebaliknya pola logis walaupun masih ada sentuhan dengan keadaan yang nyata, tetapi lebih dipengaruhi oleh jalan pikiran manusia yang menghadapi persoalan yang tengah digarap itu.
1.    Pola Alamiah
Susunan atau pola alamiah adalah suatu urutan unit-unit outline sesuai dengan keadaan yang nyata di alam. Sebab itu susunan alamiah itu didasarkan pada ketiga (atau keempat) dimensi dalam kehidupan manusia: atas-bawah, melintang-menyebrang, sekarang-nanti, dulu-sekarang, timur-barat, dan sebagainya. Sebab itu susunan alamiah dapat dibagi lagi menjadi tiga bagian utama, yaitu:
a.    urutan berdasarkan waktu (urutan kronologis), yaitu: urutan yang didasarkan pada runtunan atau tahap-tahap kejadian. Sering suatu peristiwa hanya akan menjadi penting bila dilihat dalam rangkaian dengan peristiwa-peristiwa lainnya. Urutan kronologis adalah urutan yang paling umum, tetapi juga merupakan satu-satunya cara yang kurang menarik dan paling lemah. Sering, terutama dalam menjelaskan suatu proses, urutan ini merupakan cara yang esensil.
b.    urutan berdasarkan ruang (urutan spasial), yaitu: urutan ruang atau urutan spasial menjadi landasan yang paling penting, bila topik yang diuraikan mempunyai pertalian yang sangat erat dengan ruang atau tempat. Urutan ini terutama digunakan dalam tulisan-tulisan yang bersifat deskriptif.
c.    urutan berdasarkan topik yang ada, yaitu: suatu pola peralihan yang dapat dimasukkan dalam pola alamiah adalah urutan berdasarkan topik yang ada. Suatu barang, hal, atau peristiwa sudah dikenal dengan bagian-bagian tertentu. Untuk menggambarkan hal tersebut secara lengkap, mau tidak mau bagian-bagian itu harus dijelaskan berturut-turut dalam kerangka itu, tanpa mempersoalkan bagian mana lebih penting dari lainnya, tanpa memberi tanggapan atas bagian-bagiannya itu.
2.   Pola Logis
Tanggapan yang sesuai dengan jalan pikiran untuk menemukan landasan bagi setiap persoalan, mampu dituang dalam suatu susunan atau urutan logis. Urutan logis sama sekali tidak ada hubungan dengan suatu ciri yang inheren dalam materinya, tetapi erat dengan tanggapan penulis. Macam-macam urutan logis yang dikenal adalah:
a.  Urutan klimaks dan anti klimaks, urutan ini timbul sebagai tanggapan penulis yang berpendirian bahwa posisi tertentu dari suatu rangkaian merupakan posisi yang paling tinggi kedudukannya. Bila posisi yang paling penting itu berada pada akhir rangkaian maka urutan ini disebut klimaks. dalam urutan klimaks pengarang menyusun bagian-bagian dari topik itu dalam suatu urutan yang semakin meningkat kepentingannya, dari yang paling rendah kepentingannya, bertingkat-tingkat naik hingga mencapai ledakan pada akhir rangkaian. Urutan yang merupakan kebalikan dari klimaks adalah anti klimaks. Penulis memulai sesuatu yang paling penting dari suatu rangkaian dan berangsur-angsur menuju kepada suatu topik yang paling rendah kedudukannya atau kepentingannya.
b.   Urutan kausal, urutan ini mencakup dua pola yaitu urutan dari sebab ke akibat dan urutan akibat ke sebab. Pada pola yang pertama suatu masalah dianggap sebagai sebab, yang kemudian dilanjutkan dengan perincian-perincian yang menelusuri akibat-akibat yang mungkin terjadi. Urutan ini sangat efektif dalam penulisan sejarah. Sebaliknya, bila suatu masalah dianggap sebagai akibat, yang dilanjutkan dengan perincian-perincian yang berusaha mencari sebab-sebab yang menimbulkan masalah tadi, maka urutannya merupakan akibat-sebab.
c.  Urutan pemecahan masalah, urutan pemecahan masalah ini dimulai dari suatu masalah tertentu, kemudian bergerak menuju kesimpulan umum atau pemecahan atas masalah tersebut.
d.  Urutan umum-khusus, urutan ini terdiri dari dua corak yaitu dari umum ke khusus atau dari khusus ke umum. Urutan yang bergerak dari umum ke khusus pertama-tama memperkenalkan kelompok-kelompok yang paling besar atau yang paling umum, kemudian menelusuri kelompok-kelompok khusus atau kecil. Urutan khusus-umum merupakan kebalikan dari urutan diatas. Penulis memulai uraiannya mengenai hal-hal yang khusus kemudian meningkat kepada hal-hal yang umum yang mencakup hal-hal yang khusus tadi. Atau memulai membicarakan individu-individu kemudian kelompok-kelompok.
e. Urutan familiaritas, urutan ini dimulai dengan mengemukakan sesuatu yang sudah dikenal, kemudian berangsur-angsur pindah kepada hal-hal yang kurang dikenal. Secara logis memang agak ganjil jika pengarang mulai menguraikan sesuatu yang tidak dikenalnya. Bila pembaca tidak memahami persoalannya sejak awal, maka ia tidak akan melanjutkan pembacaannya.dalam keadaan-keadaan tertentu. Cara ini misalnya diterapkan dengan mempergunakan analogis. Mula-mula diuraikan hal yang diketahui, kemudian diuraikan hal yang akan diperkenalkan dengan menunjukkan kesamaan-kesamaan dengan hal yang pertama tadi.
f. Urutan akseptabilitas, urutan ini mirip dengan urutan familiaritas. Bila urutan familiaritas mempersoalkan apakah suatu barang atau hal sudah dikenal atau tidak oleh pembaca, maka urutan ini mempersoalkan apakah suatu gagasan diterima atau tidak oleh para pembaca. Apakah suatu pendapat disetujui atau tidak oleh para pembaca. Sebab sebelum menguraikan gagasan yang mungkin ditolak oleh pembaca, penulis harus mengemukakan gagsan-gagasan yang kiranya dapat diterima oleh pembaca dan sekaligus gagasan-gagasan itu menjadi landasan pula bagi gagasan yang mungkin akan ditolak (yang akan diajukan oleh penulis untuk pembaca).
BAB III
 PENUTUP
            Secara singkat dapat dikatakan kerangka karangan atau outline adalah suatu cara kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu kerangka yang akan digarap. Sebuah kerangka karangan atau outline mengandung rencana kerja, memuat ketentuan-ketentuan pokok bagaimana suatu topik harus diperinci dan dikembangkan. Kerangka karangan atau outline menjamin suatu penyusunan yang logis dan teratur. Serta memungkinkan seorang penulis membedakan gagasan-gagasan utama dari gagasan-gagasan tambahan. Perlu ditegaskan disini bahwa seseorang tidak akan mencapai kemahiran ini dengan sekali mempelajari prinsip-prinsip sebagai telah dikemukakan di atas. Ia harus mengadakan latihan secara terus-menerus, harus melalui perkembangan dari tahap yang satu ke tahap yang lain. Melalui kegagalan-kegagalan dan akhirnya bangun kembali dari kekecewaannya untuk pada akhirnya mencapai apa yang diharapkan. 



[1] Sukari Tamsir, Bahasa Indonesia Pengantar Penulisan Karya Ilmiah, (Surakarta : Puri Media, 2002), h. 1
[2] Sukari Tamsir, ibid., h. 8
[3] Gorys Keraf,  Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. (Ende: Nusa Indah,2001), h. 133-134
[4] Sukari Tamsir, op.cit., h. 86
[5] Gorys Keraf, op.cit., h. 152-155
[6] Gorys Keraf, ibid.,  h. 135-136
[7] Gorys Keraf, ibid.,  h. 136-142 

No comments:

Post a Comment