Labels

Sunday, October 14, 2012

Amtsalul Qur'an


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Sebuah kata yang indah akan tampak lebih indah jika penggunaan kata tersebut menggunakan permisalan, karena dengan permisalan seseorang dapat dengan mudah memahami arti makna kalimat tersebut. Tamtsil merupakan kerangka yang dapat menampilkan makna-makna dalam bentuk yang hidup dan mantab di dalam pikiran.
Salah satu aspek keindahan retorika al-Quran adalah amtsal (perumpamaan-perumpamaan) al-Quran yang tidak hanya membicarakan kehidupan dunia yang dapat di indera, tetapi juga memuat kehidupan akhirat dan hakikat lainnya yang memiliki makna dan tujuan ideal yang tidak dapat di indera dan berada di luar pemikiran akal manusia.
Pembicaraan yang terakhir ini dituangkan dalam bentuk kata yang indah, mempesona dan mudah dipahami, yang dirangkai dalam untaian perumpamaan dengan sesuatu yang telah diketahui secara yakin yang dinamakan tamtsil itu. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini penulis akan mencoba membahas tentang amtsal al-Quran lebih dalam pada makalah ini.


B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian Amtsal
2.      Rukun Amtsal
3.      Macam-macam Amtsal
4.      Manfaat Amtsal
5.      Tujuan Amtsal

BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengertian Amtsal
Kalam Allah:
وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (٢٧)
Artinya:
“Dan sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam al-Quran segala macam perumpamaan supaya mereka mendapatkan pelajaran.” (Q.S. 39: az-Zumar, 27).
وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلا الْعَالِمُونَ (٤٣)
Artinya:
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tiada yang memahaminya, kecuali orang-orang yang berilmu.” (Q.S. 29: al-Ankabut, 43).
Secara bahasa amtsal adalah bentuk jamak dari matsal, mitsl dan matsil, sama dengan syabah, syibh, dan syabih, yang sering kita artikan dengan “semakna” atau “perumpamaan”.
Matsal juga dimaknakan dengan keadaan, kisah yang menarik perhatian, menakjubkan. Seperti kalam Allah[1]:
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ .... (٣٥)
“yakni: kisah surga dan sifatnya yang menakjubkan yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa….” (Q.S. 13:ar Ra’d, 35).
Sedangkan menurut istilah ada beberapa pendapat, yaitu:
1.  Menurut ulama ahli Adab, amtsal adalah suatu perkataan yang diceritakan/diriwayatkan dan sudah berkembang yang dimaksudkan daripadanya , menyerupakan keadaan orang yang diceritakan/diriwayatkan padanya dengan keadaan orang yang matsal itu dikatakan karenanya (dituju)[2].
2.   Menurut ulama ahli Bayan, amtsal adalah ungkapan majaz yang disamakan dengan asalnya karena adanya persamaan yang dalam ilmu-ilmu Balaghah disebut tasybih.
3.     Menurut ulama ahli Tafsir, adalah menampakkan pengertian yang abstrak dalam ungkapan yang indah, singkat, menarik, yang mengena dalam jiwa, baik dengan bentuk tasybih maupun majaz mursal.[3]
Al-Baihaqi mengeluarkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah. Ia mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda:
إِنَّ الْقرأن نُزِل على خمسةِ أوجهٍ : حلال و حرام و محكم و متشابهٌ و أمثالٌ فاعلموا بالحلال واجتنبوا الحرام واتبعوا المحكم وءامنوا بالمتشابه واعتبروا بالأمثال.
Artinya:
sesungguhnya al-Quran diturunkan dengan lima sisi. Halal, haram, muhkam, mutasyabih, dan amtsal. Kerjakanlah yang halalnya, tinggalkanlah yang haramnya, ikutilah yang muhkamnya, imanilah yang mutasyabihnya, dan ambilah pelajaran dari amtsalnya.”
Menurut al-Mawardi, ilmu al-Quran yang paling agung adalah ilmu tentang perumpamaan-perumpamaannya. Namun sayangnya, orang-orang lupa tentangnya karena disibukkan oleh perumpamaannya sendiri. Mereka pun lupa terhadap yang diumpamakannya. Padahal perumpamaan tanpa yang diumpamakan sama seperti kuda tanpa tali kendali[4].
  1. Rukun Amtsal(Tasybih)
Ahli Balaghoh mensyaratkan bahwa tamtsil itu harus memenuhi beberapa ketentuan, yaitu: bentuk kalimatnya ringkas, isi maknanya mengena dengan tepat, perumpamaannya baik, dan sampirannya harus indah.[5] Sebagian ulama mengatakan bahwa amtsal memiliki empat unsur atau rukun, yaitu:
1.      Wajah Syabbah (segi perumpamaan)
Yaitu pengertian yang bersama-sama yang ada pada musyabbah dan musyabbah bih.
2.      Adaat  Tasybih (alat-alat yang digunakan untuk tasybih)
Yaitu kaaf, mitsil, ka anna, dan semua lafadz yang menunjukkan makna perumpamaan.
3.      Musyabbah (yang diperumpamakan)
Sesuatu yang diserupakan(menyerupai) musyabbah bih.
4.       Musyabbah Bih
Yaitu sesuatu yang diserupai oleh musyabbah.
Sebagai contoh, kalam Allah:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (٢٦١)
Artinya:
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipat gandakan (pahala) bagi siapa aja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Wajah Syabah yang terdapat pada ayat ini adalah pertumbuhan yang berlipat-lipat. Adaat Tasybihnya adalah kata matsal. Musyabbahnya adalah infaq atau shadaqah di jalan Allah. Sedangkan Musyabbah Bihnya adalah benih.
  1. Macam-macam Amtsal
Orang yang pertama kali menyusun ilmu Amtsal ialah Syaikh Abdur Rahman Muhammad bin Husain an-Naisaburi. Kemudian Imam Abul Hasan bin Ali bin Muhammad al-Mawardi, Ibnul Qayyim, dan Jalaluddin As-Suyuthi.[6] Merka membagi amtsal menjadi tiga macam, yaitu:
1.      Amtsal Musharrahah (yang tampak atau tegas)
Yaitu amtsal yang jelas, yakni yang jelas menggunakan kata-kata perumpamaan atau kata yang menunjukkan penyerupaan. Contohnya dalam surah al-Baqarah ayat 17-19:
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لا يُبْصِرُونَ (١٧)صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لا يَرْجِعُونَ (١٨)أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ (١٩)
Artinya:
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api menerangi sekelilingnya, Allah hilangkan cahaya (yang menyinarui) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat; mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar) atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruhj, dan kilat. Mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.” (Q.S. 2:al-Baqarah, 17-19).
Pada ayat itu Allah membuat dua perumpamaan bagi orang-orang munafik, yang pertama yaitu berhubungan dengan api, dan yang kedua berhubungan dengan air hujan.
Dan Allah membuat dua perumpamaan pula  yang berhubungan dengan air dan api dalam surah ar-Ra’ad ayat 17:
أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ (١٧)
Artinya:
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya. Arus itu membuat buih yang mengembang. Dan dari logam yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat mereka; ada (pula) buihnya seperti arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya, adapun yang memberi manfaat kepada manusia maka ia tetap di bumi. Demikanlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (Q.S. 13:ar-Ra’ad,17).
a.       Ibnu Abi Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari Ali dari Ibnu Abbas. Ia mengatakan bahwa perumpamaan pada ayat itu menggambarkan sesuatu yang tersirat dalam hati, yaitu keyakinan atau keraguan.
b.      ‘Atha’ mengeluarkan sebuah riwayat bahwa perumpamaan di atas ditujukan bagi orang mukmin dan orang kafir.
c.       Qatadah berkata: “sebagaimana halnya buih yang mengambang itu tidak bermanfaat dan tidak ada kebaikan yang diharapkan darinya, maka demikian pula kebatilan bagi pelakunya. Sebagaimana pula halnya air yang meresap ke dalam tanah, bermanfaat, dan mengeluarkan tumbuh-tumbuhan, sebagaimana pula emas dan perak ketika dimasukkan ke dalam api lalu hilang kotorannya, maka demikian pula kebenaran akan bermanfaat bagi pelakunya. Sebagaimana pula halnya kotoran emas itu sirna ketika dimasukkan ke dalam api, maka demikian pula kebatilan.[7]
2.      Amtsal Kaminah (yang tersembunyi)
Yaitu amtsal yang tidak menyebutkan dengan jelas kata-kata yang menunjukkan perumpamaan tetapi kalimat itu mengandung pengertian mempesona, sebagaimana terkandung di dalam ungkapan-ungkapan singkat para ulama.
Al-Mawardi menceritakan bahwa ia pernah mendengar Abu Ishaq Ibrahim bin Mudharib bin Ibrahim mengatakan bahwa bapaknya pernah bertanya kepada al-Hasan bin al-Fadhl.[8]
a.       “Engkau banyak mengeluarkan perumpamaan-perumpamaan Arab dan Ajam dari al-Quran. Apakah engkau menemukan dalam al-Quran yang menyerupai ungkapan bahwa sebaik-baik urusan adalah yang berada di tengah-tengah:
خَيْرُ اْلأمُورِ أَوْسَطُهَا
Ia menjawab, “ya, pada empat tempat, yaitu:
1.       
...لاَ فَارِضٌ وَلاَ بِكْرٌ عَوَانٌ بَينَ ذَ لك....(البقرة: 67)  
Artinya:
“…Sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu….” (Q.S. 2:al-Baqarah, 68).
2.       
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا (٦٧)
Artinya:
“Dan orang-orang yang, apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Q.S. 25:al-Furqan, 67).
3.         
...وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا (١١٠)
Artinya:
“…dan janganlah kamu mengeraskan suara dalam sholatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah antara keduanya.” (Q.S. 17:al-Isra’, 110).
4.         
وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ .... (٢٩)
Artinya:
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya.” (Q.S. 17:al-Isra’, 29).
b.      “Apakah engkau menemukan dalam al-Quran yang semakna dengan ungkapan “siapa yang bodoh terhadap sesuatu, pasti akan mengulanginya”
مَنْ جَهَلَ شَيْئًا عَادَاهُ
Ia menjawab, “ya, pada dua tempat yaitu:
1.       
بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ .... (٣٩)
Artinya:
“yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya.” (Q.S. 10:Yunus, 39).
2.        
... وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ (١١)
Artinya:
“Dan karena tidak mendapat petunjuk dengannya (al-Quran), maka mereka akan berkata, “ini adalah dusta yang lama.” (Q.S. 46:al-Ahqaf, 11).
c.       “apakah engkau menemukan dalam al-Quran yang semakna dengan ungkapan “tidaklah berita itu sama dengan menyaksikannya sendiri”
لَيْسَ اْلخَبَرُ كَالعِيانِ
Ia menjawab, “ya, yaitu:
... قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي .... (٢٦٠)
Artinya:
“… Allah bertanya, ‘Apakah kamu belum percaya?” Ibrahim menjawab, “Saya telah percaya, tetapi agar bertambah tetap hati saya….” (Q.S. 2:al-Baqarah, 260).
3.      Amtsal Mursalah (yang terlepas)
Yaitu kalimat-kalimat al-Quran yang disebut secara lepas tanpa ditegaskan redaksi penyerupaan. Tetapi dapat digunakan untuk penyerupaan. Namun, khusus untuk amtsal mursalah, para ulama berbeda pendapat dalam menanggapinya.
a.       Sebagian ulama menganggap amtsal mursalah telah keluar dari etika al-Quran. Menurut ar-Razi ada sebagian orang-orang menjadikan ayat “lakum dinukum wa liyadin” sebagai perumpamaan ketika mereka lalai dan tak mau menaati perintah Allah. Ar-Razi lebih lanjut mengatakan bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan sebab Allah tidak menurunkan ayat ini untuk perumpamaan, tetapi untuk diteliti, direnungkan, dan kemudian diamalkan.
b.      Sebagian ulama lain beranggapan bahwa mempergunakan amtsal mursalah itu boleh saja karena amtsal, termasuk amtsal mursalah lebih berkesan dan dapat mempengaruhi jiwa manusia. Seseorang boleh saja menggunakan amtsal dalam suasana tertentu. Contoh dalam kalam Allah:
... أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ (٨١)
Artinya:
“…Bukankah Subuh itu sudah dekat?”(Q.S. 11:hud,81).
Ayat di atas sebagai perumpamaan waktu yang sudah dekat.
  1. Manfaat Amtsal[9]
Manna al-Qaththan menjelaskan bahwa di antara manfaaat amtsal al-Quran adalah sebagai berikut:
1.      menampilkan sesuatu yang abstrak (yang hanya ada dalam pikiran) ke dalam sesuatu yang konkrit-material yang dapat di indera manusia.
2.      Menyingkap makna yang sebenarnya dan memperlihatkan hal yang gaib melalui paparan yang nyata.
3.      Menghimpun arti yang indah dalam ungkapan yang singkat sebagaimana terlihat dalam amtsal kaminah dan amtsal mursalah.
4.      Membuat si pelaku amtsal menjadi senang dan bersemangat.
5.      Menjauhkan seseorang dari sesuatu yang tidak disenangi.
6.      Memberikan pujian kepada pelaku.
7.      Mendorong giat beramal, melakukan hal-hal yang menarik dalam al-Quran.
8.      Pesan yang disampaikan melalui amtsal lebih mengena di hati, lebih mantab dalam menyampaikan nasehat dan lebih kuat pengaruhnya.
9.      Menghindarkan dari perbuatan tercela.
Allah banyak menyebut amtsal dalam al-Quran untuk pengajaran dan peringatan.
  1. Tujuan Amtsal
Para ulama ahli tafsir tidak secara jelas menyebutkan tujuan dari amtsal al-Qur’an. Namun apabila dicermati dari berbagai faedah dan ayat-ayat amtsal al-Qur’an maka dapat dikatakan bahwa tujuan dari amtsal adalah agar manusia menjadikannya pelajaran dan bahan renungan dalam arti contoh yang baik dijadikan sebagai teladan sedangkan perumpamaan yang jelek sedapat mungkin dihindari. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan Allah dalam surah az-Zumar ayat 27.
وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (٢٧)
Artinya:
“Dan sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam al-Quran segala macam perumpamaan supaya mereka mendapatkan pelajaran.” (Q.S. 39: az-Zumar, 27).
Mengenai kedudukan amtsal dalam al-Qur’an, Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Abu Hurairah:
إِنَّ الْقرأن نُزِل على خمسةِ أوجهٍ : حلال و حرام و محكم و متشابهٌ و أمثالٌ فاعلموا بالحلال واجتنبوا الحرام واتبعوا المحكم وءامنوا بالمتشابه واعتبروا بالأمثال.
Artinya:
sesungguhnya al-Quran diturunkan dengan lima sisi. Halal, haram, muhkam, mutasyabih, dan amtsal. Kerjakanlah yang halalnya, tinggalkanlah yang haramnya, ikutilah yang muhkamnya, imanilah yang mutasyabihnya, dan ambilah pelajaran dari amtsalnya.”
Dari dalil al-Qur’an dan hadits di atas maka jelaslah bahwa tujuan amtsal al-Qur’an adalah sebagai teladan dan bahan renungan sehingga manusia terbimbing menuju jalan yang benar demi meraih kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pengertian-pengertian di atas, penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Amtsal adalah suatu perumpamaan yang hanya ada dalam pikiran (abstrak) dengan diskripsi sesuatu yang dapat di indera, melalui pengungkapan yang indah dan mempesona, baik dengan jalan tasybih maupun majaz mursal.
2.      Amtsal dalam al-Quran dibagi menjadi tiga, yaitu:
a.       Amtsal musharrahah
b.      Amtsal kaminah
c.       Amtsal mursalah
3.      Amtsal mempunyai banyak manfaat.
4.      Penggunaan amtsal dalam media dakwah lebih mudah diterima.
5.      Tujuan amtsal agar manusia mengambil pelajaran dari al-Qur’an dengan mengambil hal-hal yang baik dan menjauhi hal-hal yang buruk demi mendapatkan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

DAFTAR PUSTAKA
Akhdari, Imam, Ilmu Balaghoh, terj. Moh.Anwar, Bandung:al-Ma’arif, 1989.
Al-Qaththan, Manna’, Mabaahits Fiy ‘Uluumil-Qur’an. Cet.III. Riyadh: Mansyuurat al-Asri al-Hadits. 1973.
Al-Qur’an al-Karim, Kudus: Menara. 2000.
Al-Qur’an al-Karim, Terjemah, Kudus: Menara.2005.
Ash-Shiddieqy, M. Hasbi, Ilmu-ilmu Al-Quran Media-media Pokok dalam Menafsirkan Al-Quran, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1993.
Muhammad, bin Alawi al-Maliki al-Husni, Zubdah al-Itqan fi Ulum al-Quran, Bandung: CV Pustaka Setia, 1999.
Syadali, Ahmad & A.Rofi’I, Ulumul Quran II, Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997.




[1] M. Hasbi ash shiddieqy, Ilmu-ilmu Al-Quran Media-media Pokok dalam Menafsirkan Al-Quran, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1993), h.174.
[2] Ibid.,
[3] Ahmad Syadali & A.Rofi’I, Ulumul Quran II, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997), h.35.
[4] Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Husni, Zubdah al-Itqan fi Ulum al-Quran, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1999), h.330.
[5] Imam Akhdari, Ilmu Balaghoh, terj. Moh.Anwar, (Bandung:al-Ma’arif, 1989), h.124.
[6] Ahmad Syadali & A.Rofi’I, Op.cit., h.35.
[7] Muhammad bin Alawi al-Maliki, Op.cit.,h.332.
[8] Ibid., h.335.
[9] Ahmad Syadali & A.Rofi’I, Op.cit., h.44.

No comments:

Post a Comment