Labels

Sunday, August 11, 2013

Tiga Golongan Pembaca al-Qur'an



Oleh: khoerul anam

Dalam hal membaca Al-Qur an manusia terbagi menjadi tiga golongan:

Pertama, mereka yang berlebih-lebihan, yakni yang membacanya tanpa merenungi dan meresapi setiap maknanya. Tujuan mereka hanyalah mengkhatamkan sesering mungkin sehingga sebagian mereka ada yang mengkhatamkan dalam waktu satu atau dua hari saja. Mereka membacanya secepat mungkin.

Kedua, mereka yang sangat jarang membacanya bahkan tidak pernah membacanya sama sekali.

Ketiga, mereka yang berada di antara dua golongan di atas. Mereka tidak berlebih-lebihan dalam membacanya, tapi tidak pula berkekurangan. Inilah golongan terbaik.

Membaca Al-Qur an dengan tajwid serta shalat dengan tenang itu jauh lebih baik daripada memperbanyak raka’at tanpa itu semua karena dalam beramal, kualitas lebih penting daripada kuantitas. Begitu juga dalam membaca Al-Qur an. Jangan membaca dengan tergesa-gesa dan jangan pula disenandungkan yang sampai merusak kata dan maknanya.

Friday, August 9, 2013

Kajian Tafsir di Indonesia (Tafsir al-Iklil Karya KH. Misbah Mustofa)



Oleh: Arif Purnama Putra
Mahasiswa Tafsir Hadis IAIN Surakarta 2011
A.      Biografi
KH. Misbah adalah seorang pengasuh Pondok Pesantren al-Balagh, Bangilan, Tuban, Jatim. Ia dilahirkan di pesisir utara Jawa Tengah, tepatnya di kampung Sawahan, Gang Palem, Rembang tahun 1916 dengan nama Masruh. Ia lahir dari pasangan keluarga H. Zaenal Musthafa dan Khadijah. Ayahnya dikenal masyarakat sebagai orang yang taat beragama, di samping sebagai pedagang yang sukses dalam usaha menjual batik-batik yang berkualitas. Oleh karena itu, keluarga Masruh dikenal sebagai keluarga yang cukup berada secara ekonomi untuk ukuran saat itu, di saat ekonomi Indonesia umumnya sangat memperihatinkan sebagai dampak adanya imperialisme politik dan ekonomi pihak penjajah. Keberangkatan Masruh bersama orangtua dan seluruh anggota keluarga menunaikan ibadah haji merupakan Indikator yang menunjukkan kemampuan ekonomi orangtuanya. Sepulangnya dari menunaikan ibadah haji tersebut, Masruh kemudian mengganti namanya dengan Misbah Musthafa.[1]

Tuesday, August 6, 2013

Kajian Kitab Tafsir di Indonesia (Tafsir al-Mishbah M.Quraish Shihab)

Tafsir al-Mishbah Karya M.Quraish Shihab
Oleh: Ahmad Ashabul Kahfi
Mahasiswa Tafsir Hadis IAIN Surakarta 2011




BAB I
PENDAHULUAN
            Dinamika perkembangan ilmu tafsir dan karya-karya tafsir perlu diperhatikan dan diikuti jejaknya. Meski lahirnya bidang ini jauh sebelum para tabi’in dan ulama kontemporer merumuskan dan mengembangkannya, namun minat untuk mengkaji dan merevolusi tak pernah habis dimakan zaman. Sehingga karya-karya tafsir ulama era at-Thabari, Ibn Katsir, Zamakhsyari dan lainnya tersebut mengingspirasi para mufasir baru sebagai penerus untuk mengembangkan model dalam bentuk karya penafsiran, karena menjadi sebuah tuntutan bahwa al-Qur’an merupakan sumber jawaban atas segala permasalahan di waktu dan tempat mana pun (Shohih likulli zaman wal makan).
            Indonesia sebagai salah satu bagian terpenting dalam sejarah perkembangan Islam, tak luput dari sentuhan tafsir. Sehingga lahirlah berbagai karya tafsir dalam kurun waktu yang berbeda dengan corak, metode, dan subtansinya juga berbeda. Seiring dengan latarbelakang tokoh atau penciptanya serta diwarnai dengan alasan dibuatnya karya tersebut yang beragam pula maka perlu ditarik sebuah garis panjang yang menghubungkan antara satu karya tafsir dari awal hingga karya tafsir kontemporer.

Monday, August 5, 2013

Kajian Tafsir di Indonesia [Tafsir MTA (Majlis Tafsir al-Qur'an)]

TAFSIR MTA
(Oleh: Abdul Azis)
Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadis IAIN Surakarta 2010 
A.  Pendahuluan
Penyebaran Islam dari awal kemunculannya hingga saat ini, diyakini tidak lepas dari sumber primer ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah, sehingga sejarah Islam juga merupakan sejarah al-Qur’an. Sejarah al-Qur’an dalam konteks yang paling sederhana di Indonesiea dapat ditelusuri sejarah masuknya Islam di Indonesia.
Di Indonesia penulisan kitab tafsir telah dimulai sejak abad XVI dan masih berlanjut hingga sekarang, setiap penafsiran dalam abad yang berbeda akan menghasilkan corak penafsiran yang berbeda pula. Pada kesempatan ini, pemakalah akan mencoba memabahas tentang tafsir MTA yang mencakup tentang sejarah berdirinya MTA, latar belakang penulisan, dan sistematika, metode dan corak penafsiran.